Sebuah kalimat yang membuat diriku berpikir dua kali,
sederhana namun menyentuh lubuk hati. Kalimat yang keluar dari mulut papaku,
kalimat yang dua kali beliau ucapkan dalam waktu belakangan ini. Sebuah kata
dari “three magical words” yaitu TERIMA KASIH. Entah apa yang membuat kalimat
itu terlalu berharga bagiku, mengubah pola pikirku, membuat tekad menjadi anak
dan wanita yang lebih baik. Dari ribuan terima kasih yang terucap oleh papa,
pertama kalinya kalimat itu membuatku tersentuh ketika aku menyelesaikan sidang
Sarjanaku. Mengabari beliau dan mama adalah hal pertama kulakukan. Ketika
beliau mengangkat dan mendengar kabar itu ia memberiku selamat dan “terima
kasih nak, kamu menyelesaikannya dengan baik”. Saat itu juga aku terdiam dan
air mata hendak menerobos keluar, kalimat yang seharusnya aku ucapkan kepada
beliau bukan malah sebaliknya. Aku yang seharusnya berterima kasih, karena di
23 tahun hidupku belum bisa memberikan apa- apa, dimana aku seharusnya bisa
bekerja sambil kuliah namun beliau memberikan kebebasan untukku untuk tidak
bekerja dan menjadi pengangguran sambil kuliah di malam hari. Aku yang merengek
meminta sesuatu yang terkadang lupa memikirkan bagaimana kondisi mereka. Aku
yang seharusnya berterima kasih karena selalu ada untuk mendengarkan keluh
kesahku disaat teman yang ku junjung lupa akan diriku dan sibuk ketika aku
memerlukan mereka. Aku yang seharusnya berterima kasih, namun mendengar kalimat
itu keluar dari beliau membuatku lega, membuat semua usaha ku terbayarkan,
BAHAGIA tapi merasa bersalah.
Malam ini, kata itu muncul kembali ketika ia meminta ku untuk
shalat pada tepat waktu terutama shubuh. Kalian tau, aku manusia yang lebih
aktif di tengah malam dibandingkan siang hari, karena terbiasa dari kecil dan
hingga kini menjadi kebiasaan untuk tidur larut. Terkadang untuk shalat subuh
masih saja terlambat meskipun telah ditelpon dan dibantu alarm yang super keras
aku akan susah terbangun. Beliau bilang “Shalat tepat waktu lah nak, kalau
tidak papa yang akan berdosa tidak bisa mengajarkanmu shalat pada tepat waktu.
Papa berterima kasih kalau kamu mau melakukannya”. Tersadar aku masih jauh dari
kata berbakti, aku anak satu – satunya dan aku juga berperan dalam dosa dan
pahala beliau. Aku masih jauh dari kata seorang umat yang baik, begitu banyak
kekuranganku bahkan shalat saja aku masih saja lalai.
Terima kasih papa dan mama, ku selalu berdoa Allah SWT panjangkan
umurmu, sehatkan dirimu dan bahagiakan dirimu agar selalu bersamaku. aku akan
berusaha menjadi anak yang berbakti dan baik untukmu. Aku mencintai kalian
lebih dari apapun.
